FETP UGM

Kumpulan Artikel

Faktor-Faktor Kejadian Hipertensi pada Perempuan Usia 20-50 Tahun Di Kota Bengkulu

E-mail Print PDF
Latar Belakang. Hipertensi di Indonesia rata-rata meliputi 17% - 21% dari keseluruhan populasi orang dewasa artinya, 1 di antara 5 orang dewasa menderita hipertensi. Penderita hipertensi lebih banyak pada, perempuan yaitu 37% dari pada  laki-laki hanya 28%. Jumlah penduduk Kota Bengkulu tahu 2007 sebanyak 270.080 jiwa yang terdiri dari 133.564 orang laki-laki dan 136.516 orang perempuan. Berdasarkan hasi Riskesdas 2007, dari 136.516 orang perempuan sebanyak 11,3% dari hasil pengukuran indeks massa tubuh (IMT) adalah obesitas dan kurang melakukan aktivitas fisik sebanyak 62,7% serta dalam keadaan tidak stabil atau stress sebanyak 8,6%. Prevalensi penyakit hipertensi di Kota Bengkulu cenderung meningkat, tahun 2005  prevalensi sebesar 1,7% (6.098) meningkat menjadi 2,6% (7.244)  pada tahun 2006 dan tahun 2007 sebanyak 2,6% (7.514).
Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor risiko kejadian hipertensi pada perempuan usia 20-50 tahun di Kota Bengkulu.
Metodologi. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan penelitian  Case Control Study,sampel dalam penelitian ini sebanyak 266 dengan perbandingan kasus dan kontrol 1 : 1. Analisis dilakukan secara bivariat dan multiple logistic regression.
Hasil. Hasil analisis bivariat obesitas menunjukkan nilai OR 2,563 dan nilai p =0,001. Stress OR = 2,73  dan nilai p=0,000. Aktivitas fisik menunjukkan OR = 1,436 dan nilai p=0,141.  Konsumsi garam menunjukkan OR=2,689 dan nilai p=0,005. Minum kopi mempunyai OR=1,622 dan nilai p= 0,050. Penggunaan alat kontrasepsi hormonal menunjukkan OR=1,702 dan nilai p=0,034. Analisis multivariat menunjukkan konsumsi garam p=0,009 dengan nilai Exp.(B)=2,751. Stress p=0,001 dengan nilai Exp.(B)=2,532. Obesitas p=0,002 dengan nilai Exp.(B)=2,457. Minum kopi p=0,033 dengan nilai Exp.(B)=1,762
Kesimpulan. Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada perempuan usia 20-50 tahun di Kota Bengkulu adalah konsumsi garam, stress, obesitas dan minum kopi.

Kata Kunci: Hipertensi, perempuan usia 20-50 tahun, obesitas, stress, aktivitas fisik, minum kopi, konsumsi garam dan Alkon hormonal.
 

Hubungan Antara Faktor-Faktor Eksternal dengan Kejadian Penyakit Tuberkulosis pada Balita Di Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau

E-mail Print PDF
Latar Belakang. Penyakit tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Diperkirakan dari 100.000 penduduk terdapat 160 penderita TB paru BTA (+), 15% diantaranya adalah TB anak. Di Kabupaten Kuantan Singingi program penanggulangan penyakit tuberkulosis dilakukan dengan strategi DOTS sesuai dengan rekomendasi WHO, tetapi masih diprioritaskan pada penderita TB dewasa, padahal usia balita  adalah kelompok usia yang paling rentan untuk tertular. Dalam tiga tahun terakhir terjadi peningkatan jumlah kasus TB anak yang ditemukan. Banyak faktor yang berhubungan dengan peningkatan insiden tuberkulosis.
Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor eksternal yang paling dominan berhubungan dengan kejadian TB pada balita.
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan case control study. Jumlah sampel 218 orang terdiri dari 109 orang kasus dan 109 orang kontrol yang diambil secara purposive. Kasus diambil dari penderita TB anak usia balita yang didiagnosis oleh dokter spesialis anak dan dokter dipuskesmas, sedangkan kontrol diambil dari penderita penyakit lain selain TB anak yang datang berobat kepuskesmas dan pada dokter spesialis anak dalam 12 bulan terakhir. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara dan pengukuran terhadap ventilasi dan tingkat kelembaban. Data yang telah dikumpulkan disajikan dengan cara membuat tabel distribusi frekuensi dan dilakukan analisis secara bivariat dan multivariat.
Hasil. Analisis multivariat menunjukkan variabel yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis pada balita adalah : kebiasaan merokok anggota keluarga dalam rumah dengan OR = 2,6372 (p=0,0026), riwayat kontak dengan kasus BTA positif  OR = 2,6284 (p=0,0026) dan status sosial ekonomi keluarga dengan OR = 2,587 (p=0,0012).
Kesimpulan. penelitian adanya riwayat kontak dan kebiasaan merokok anggota keluarga dalam rumah serta status sosial ekonomi yang rendah merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya tuberkulosis pada balita di Kabupaten Kuantan Singingi, sehingga perlu lebih ditingkatkan kegiatan promosi kesehatan dan PHBS khususnya bahaya merokok bagi kesehatan dan kegiatan active case finding  serta pengobatan kasus secara tuntas dengan sistem pengobatan gratis di puskesmas.

Kata Kunci: Faktor eksternal tuberkulosis, anak usia dibawah lima tahun.
 

Perbedaan Faktor-Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Keberadaan Jentik Vektor Dengue (Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus) Antara Desa Endemis dan Sporadis Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul

E-mail Print PDF
Latar Belakang. Penanggulangan penyakit DBD mengalami masalah yang cukup kompleks karena hasil survei Dinkes Kabupaten Bantul (2007) menyatakan bahwa partisipasi masyarakat Bantul dalam melaksanakan PSN dan pengelolahan sampah rumah tangga untuk memutus rantai penularan nyamuk masih belum memuaskan karena nilai ABJ belum dapat mencapai target yang ditetapkan Kabupaten Bantul sebesar 80% dan masih jauh dari harapan nasional sebesar 95%. Kecamatan Banguntapan menjadi salah satu penyumbang 80% kasus DBD di Kabupaten Bantul dan menempati urutan pertama pada tahun 2005 dan urutan ke dua tahun 2006 dan 2007, sebagai kasus tertinggi dan sebagai daerah yang paling padat. Di Kecamatan tersebut, terdapat 2 desa yang memiliki beberapa kesamaaan baik dari segi kondisi geografis maupun kepadatan penduduk dan jarak antar desa yang tidak terlalu jauh, tetapi memiliki tingkat endemisitas yang berbeda.  
Tujuan. Untuk mengetahui perbedaan faktor-faktor risiko yang mempengaruhi keberadaan jentik vektor dengue (Aedes aegypti dan Aedes albopictus) antara desa endemis dan sporadis Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul.
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional rancangan “Cross Sectional”. Unit analisis adalah individu dan rumah sebanyak 406 sampel (secara proportional to population size) di Desa Baturetno dan Potorono. Variabel bebas meliputi:  lingkungan fisik, lingkungan sosial budaya, dan upaya pemberantasan vektor program dinas, sedangkan variabel terikatnya adalah status endemisitas.
Hasil. Analisis kondisi tempat potensial perkembangbiakan jentik vektor dengue berbasis MI (p: 0,0000 dan OR: 11,46),  pengelolahan sampah rumah tangga (p: 0,0000), penggunaan insektisida rumah tangga (p: 0,004), kepadatan jentik berbasis CI dan BI (p: 0,0000 dan p: 0,039), serta kunjungan tim Gertak PSN (p: 0,003), mempengaruhi perbedaan status endemisitas sedangkan faktor pengetahuan, sikap, perilaku PSN, kepadatan jentik berbasis HI dan kunjungan jumantik tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan.  
Kesimpulan. Faktor lingkungan sosial budaya (praktik pengelolahan sampah rumah tangga dan penggunaan insektisida rumah tangga), lingkungan fisik (kondisi tempat potensial perkembangbiakan jentik vektor dengue berbasis MI, kepadatan jentik berbasis HI dan MI), serta program pengendalian vektor (kunjungan tim Gertak) merupakan faktor risiko yang mempengaruhi perbedaan status endemisitas di Desa Baturetno dan Potorono Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul.  

Kata Kunci: Pengelolahan sampah, insektisida rumah tangga, MI, jentik vektor dengue, status endemisitas
 
Page 1 of 15
You are here: Home Artikel